The Blings of Her Life

Hari ini saya kembali mengantar ibu saya ke RSCM. Mengantar beliau check up  untuk mengetahui asal-usul penyakitnya selama ini. Seperti biasa, saya dan Mama memilih untuk menggunakan transportasi kereta listrik dari Bogor. Berdua saja. Tanpa Papa. Tanpa Kaka. Karena saya rasa akan sangat repot bila membawa si cilik menthik itu… Jajan melulu (turunan dari saya banget) 😦

Biasanya, untuk membunuh sepi, karena lamanya perjalanan di kereta (soale mama kalo dah dikereta langsung bobo dengan asyiknya, huhuhuhu, jadi jarang ngobrol) saya online di YM menggunakan HP butut saya. Satu hal yang mungkin anda belum tahu adalah saya banci online :)  Dimanapun saya berada, saya usahakan untuk online di YM. Dengan syarat jaringan GPRSnya bagus😆

Tapi pagi itu, saya juga membawa sebuah buku. Kiriman seorang sahabat. Seorang Blogger gaul nan cantik dan berbibir sekseh. Buku yang sebenarnya sudah sampai di tangan saya sejak hari selasa ( 21 Okt ), namun baru sempat saya baca secara utuh tadi pagi. Duh.. maaf ya jeung😛

Ya… sepagian itu dan sepanjang saya menunggui ibu saya menjalani pemeriksaan di RSCM, saya meluangkan waktu untuk membaca buku ” The Blings of My Life “. Sebuah buku yang terinspirasi dari postingan-postingan di Blog yang ber-slogan sama dengan judul bukunya. Hmm… membaca buku ini, apalagi karena saya sedikitnya mengenal Lala seperti apa (walaupun ga sering-sering amat chatting ama dia), saya seakan dibawa dalam kehidupannya yang asyik, berputar dan penuh semangat. Buatnya, life is like a roller coaster. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada saat sedih, ada saat senang 🙂 . Kisahnya nyata, bahasa yang dipakai sangat simpel dan benar juga testimoni yang diberikan oleh seorang Blogger bernama Aji, biar kata Lala banyak menyelipkan tips-tips ataupun semacam nasehat, tapi tidak terkesan sok tau ataupun menggurui. Arrrggghhh, pokoke Lala is awesome. Yes, your life is very blings🙂

Ada satu judul yang bikin saya merenung saat membacanya. Judulnya Shinpaishinaide (ribet bangetttt nulisnya). Disitu Lala bercerita tentang kepergian Mami tercinta. Postingan yang dibuat pada tanggal 7 Juli 2008, tepat 6 tahun kepergian Maminya. Saat itu juga –sambil menunggu mama di EMG (ah, entah pemeriksaan apa itu)– saya merasa tertampar. Saya yang sudah merasa dewasa, dengan umur 28 tahun sudah dilalui, ternyata masih belum berfikir SANGGUP bila suatu saat ibu saya tiada. Saya yang –sampai bulan kemarin– dengan tega membiarkan anak saya dititipkan pada mama untuk diantarkan ke sekolah dan diurusi segala tetek bengeknya, sedangkan saya ? Saya dengan santainya sudah melenggang, berlalu dari rumah mulai pukul 6.45 dan dengan santai pula bergegas tidur saat pulang dari tempat saya mengajar karena kelelahan. Hhhhhh… pantasnya saya dinamakan ANAK APA ??? 😦

Saya mencoba menebus segala kesalahan saya dengan mengajukan resign di tempat saya bekerja. Walaupun beberapa orang mengatakan sangat sayang bila saya mengambil keputusan tersebut. Bahkan mama adalah orang pertama yang marah saat tau saya hendak mengajukan permohonan pengunduran diri. Saya sampai harus meminta Papa untuk bicara dengan beliau. Karena saya harus berfikir ke depan. Just like Lala’s said, Life is a roller coaster. Ini hanya bagian dari sebuah fase kehidupan. Dimana dalam setiap kehidupan pasti ada pilihan. Dan pilihan itu tentunya mengandung banyak resiko. Saya pilih salah satunya dan saya mulai kehidupan baru dengan diawali dengan basmalah🙂

Saya tau, saya tidaklah pantas dikatakan sebagai anak berbakti, apalagi anak solehah.  Terlalu banyak dosa yang telah saya perbuat untuknya. Saya hanya ingin berarti buat mama. Saya ingin mama tau, saya ada, bisa diandalkan juga. Saya ingin merasakan apa yang dirasakan mama. Sakitnya mama adalah sakitnya saya juga. Saya tau, saya terlambat menyadari. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Saya rela bolak balik mengurus ini itu di RS, daripada membiarkan mama saya –yang kadang merasa seorang wonder women (saking ga pernah sakit) – yang bolak balik, naik turun ke lantai 2 sambil menahan sakitnya. Mulai saat ini, TIDAK !!! Mom, you’ll never walk alone. I’m with you !😥

Sampai siang tadi, saat sedang menanti kedatangan kereta Pakuan Ekspress di Gambir. Saya chatting sama Lala. Saya bilang, ” La, gue janji. Gue janji ngurusin nyokap gue. I’ll keep that promise ” . Mata saya berkaca-kaca saat Lala bercerita tentang Maminya. Saya yakin Lala juga melakukan hal yang sama. Sama halnya seperti yang dikatakan adik saya ini saat chatting di tengah-tengah menunggu panggilan dokter, ” Bun, jangan sampai sesuatu terjadi terlambat, karena akan ada penyesalan. Itu yang aku rasakan sampai saat ini…” 😥

Dan sore tadi, saat sampai di rumah, saya sign in ke YM, saya dapat pm dari sahabat baru saya, isinya seperti ini :

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkannya? masih mampukah kita tertawa melihat penderitaannya? mencaci makinya? melawannya? memukulnya? mengacuhkannya? meninggalkannya? Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil, memberikan ASI waktu kita bayi, mencuci celana kotor kita, menahan derita, menggendong kita sendirian. SADARILAH bahwa di Dunia ini tidak ada satu orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi…. Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…

Hhhhhhhh…😥

Mom, i know, maybe my love for you is not worthed at all..

But your love like a smell of heaven that i couldn’t reach…

I Love You Mom…

Your li’l naughty daughter,

Niar Melani

===================================================================

Buat yang penasaran sama bukunya Jeung Lala, cari saja di toko-toko buku terdekat di kotamu🙂

Saya berharap buku ini bisa jadi Best Seller. Karena Lala is a great story teller😛

La, thanks ya buat pelajaran tentang hidup. saya berharap hidup saya pun bisa bling-bling seperti hidupmu🙂