Bengkulu

Teringat tentang satu nama kota ini, teringat pula kalau saya sudah hampir 9 tahun nggak pulang kesana…

Mengunjungi Bengkulu memang tak sesering mengunjungi Madiun (kota kelahiran Bapak saya). Seingat saya, jatah ke Madiun itu 2 tahun sekali, ke Bengkulu 5 tahun sekali. Mengingat biaya perjalanan ke Bengkulu lebih besar dibandingkan ke Madiun.

Terakhir kali saya pulang ke tempat kelahiran ibu saya itu adalah saat idul adha pada bulan Maret 2000, sebelum gempa besar melanda Bengkulu pada Juni 2000.

Yuk Baca lanjutannya :ngemil:

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat betapa saya kangen aroma embun di pagi hari, di rumah Alm. Datuk yang berada di atas bukit di desa Karang Tinggi, Kec. Talang Empat, Bengkulu Utara, dimana malamnya saya bisa melihat dengan nyata binatang yang katanya (mitos nih, tapi kok Presty juga bilang gitu, hehe) berasal dari kuku orang yang sudah meninggal… namanya kunang-kunang… menyala-nyala indah, saya tangkap dan tak pernah bisa saya lihat bentuk aslinya seperti apa karena sinarnya indah sekali.

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat betapa segarnya mandi di sumber mata air yang ada di bawah bukit dekat rumah Datuk. Setelah itu kami akan sarapan nasi (yang beraroma gosong, bahkan keraknya selalu direbutin ) dengan gulai rebung atau sambal tempoyak kesukaan keluarga kami yang dimasak oleh Nenek dengan kayu bakar.

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat saat2 memanjat pohon durian di kebun Datuk. Dimana Datuk membuatkan cucu2nya ayunan dari ban bekas dan juga tambang-tambang bekas yang dibiarkan menggelantung supaya kami bisa bermain bagaikan tarzan yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain .

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat betapa Datuk senang bercerita tentang kisahnya dulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, mendengarnya membangga-banggakan Sjahrir yang katanya adalah sahabatnya, melihatnya membakar tembakau dalam cangklongnya sambil memegang tongkat berkepala ular yang kalau dicabut akan tampak sebilah pisau yang tajam.

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat saat2 beli bakso di pondok Besi, lalu jalan-jalan ke Tapak Padri dan mengelilingi Benteng Malborough di suatu sore yang indah…

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat saat berlari-lari di pantai panjang.. sambil berhati-hati karena saat itu banyak sekali bunga pasirnya😆

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat berjalan-jalan ke Lais, Argamakmur, Manna, Tanjung KEmuning, desa Terang Bulan… betapa saya rindu itu semua…

Kini Datuk dan Nenek sudah tiada… Rumah peninggalan pun tak lagi seindah dulu.

Mengingat Bengkulu hanya akan membuat saya menangis…

Karena saat2 indah itu tak akan pernah kembali…

Namun saya beruntung karena pernah merasakannya…

walau nanti itu hanya akan jadi cerita yang sulit dibuat nyata bila nanti saya bercerita pada anak cucu saya …

Mengingat Bengkulu, betapa saya ingin pulang

Insya Allah saat nanti ada rezeki datang… :bdoa:

amiin…

( oi.. Ples.. pulang bareng ga ? )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s