Mudikku, Mudikmu

Hai, posting lagi nih setelah absen 3 bulan. Tau-tau dah mau lebaran. Padahal kayaknya kemarin baru awal ramadhan. Untungnya saya sudah punya panganan *rima yang ra nggenah*

Hmmm, menjelang lebaran begini, beberapa orang pasti teringat dengan satu ritual yang mengasyikkan. Bukannnn, bukan maen santet.. Musyrik itu !

Ritual mengasyikkan dan bikin kangen itu adalah eM- U- MU, De- I- DI, Ka, MUSIK MUDIK

Beberapa orang setiap tahunnya pasti sudah mempunyai satu tujuan mudik. Tapi ini tidak berlaku pada saya dan keluarga sejak dulu kala… (sambil bernyanyi rayuan pulau kelapa, “melambaiii lambaiiiii,nyiur di pantaiiii..” ). Karena beberapa bulan sebelum bulan ramadhan biasanya orangtua + kakak + saya akan mulai berembuk mengenai tujuan mudik. Kalau dulu sudah ada film Dora the Explorer, mungkin saya dan kakak saya akan bertanya kepada Mama Papa sambil berjoget, “mau kemana kita ? mau kemana kita ?” *lebay abis*

Kalau dulu ritual mudik keluarga saya digambarkan seperti ini :

  • tahun 1995 : Bengkulu
  • tahun 1996 : Bogor ajeeee
  • tahun 1997 : Madiun
  • tahun 1998 : Bogor lagiii
  • tahun 1999 : Madiun
  • tahun 2000 : Bengkulu

jadi siklusnya 2 tahun sekali ke Madiun, dan 5 tahun sekali ke Bengkulu

Nah, semenjak menikah, siklus itu jadi berantakan. Karena saya dan kakak saya masing-masing memiliki satu tujuan mudik baru. saya ke Cianjur dan Kakak saya nggak pernah mudik 

Tapi karena saya masih tinggal dengan orangtua, terkadang tujuan mudik pun disesuaikan bergantian. Kadang saya yang ikut ke Madiun, kadang orangtua saya yang ikut mudik ke Cianjur.

Nah, dari 3 tujuan mudik itu ada satu yang sering di anak tirikan. Siapa lagi kalau bukan Cinderella Bengkulu. Bisa dibilang di kota inilah saya mudik sebenar-benarnya mudik. Karena saya memang pulang ke udik, alias ke desa. Kalau di Madiun kan masih di kota

Total jendral, sudah 10 tahun saya ndak mudik ke sana. Terakhir mudik sebelum gempa besar melanda di tahun 2000, saat 3 tante saya sedang hamil besar. Sekarang sepupu-sepupu saya itu sudah naik kelas 5

Bukannya ndak kepengen ke sana. Tapi perjalanannya itu lho yang bikin semaput. Karna dulu kita lebih suka bawa mobil pribadi untuk mencapai kota putri Cempaka itu. Padahal perjalanannya enak lho… apalagi saat memilih jalur melalui Liwa, sepanjang perjalanan kita di pinggir pantaiii terus.. (sindrom ga pernah liat pantai di Bogor,hahaha)

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat, betapa saya kangen aroma embun di pagi hari, di rumah Alm. Datuk yang berada di atas bukit di desa Karang Tinggi, Kec. Talang Empat, Bengkulu Utara, dimana malamnya saya bisa melihat dengan nyata binatang yang katanya (mitos nih, tapi kok Presty juga bilang gitu, hehe) berasal dari kuku orang yang sudah meninggal… namanya kunang-kunang… menyala-nyala indah, saya tangkap dan tak pernah bisa saya lihat bentuk aslinya seperti apa karena sinarnya indah sekali.

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat betapa segarnya mandi di sumber mata air yang ada di bawah bukit dekat rumah Datuk. Setelah itu kami akan sarapan nasi (yang beraroma gosong, bahkan keraknya selalu direbutin ) dengan gulai rebung atau sambal tempoyak kesukaan keluarga kami yang dimasak oleh almh. Nenek dengan kayu bakar

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat saat-saat memanjat pohon durian di kebun Datuk. Dimana Datuk membuatkan cucu-cucunya ayunan dari ban bekas dan juga tambang-tambang bekas yang dibiarkan menggelantung supaya kami bisa bermain bagaikan tarzan yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain, lalu memetik buah-buah kopi yang sering saya tumbuk untuk bermain rumah-rumahan, ataupun melihat Pakde dan kakak-kakak sepupu saya menembak babi hutan yang sering merusak kebun.

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat betapa Datuk senang bercerita tentang kisahnya dulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, mendengarnya membangga-banggakan Sjahrir yang katanya adalah sahabatnya, melihatnya membakar tembakau dalam cangklongnya sambil memegang tongkat berkepala ular yang kalau dicabut akan tampak sebilah pisau yang tajam.

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat saat2 beli bakso di pondok Besi, lalu jalan-jalan ke Tapak Padri dan mengelilingi Benteng Malborough di suatu sore yang indah…

Mengingat Bengkulu,

Saya akan mengingat berjalan-jalan ke Lais, Argamakmur, Manna, Tanjung Kemuning, desa Terang Bulan.. Saya juga  akan mengingat saat berlari-lari di pantai panjang.. sambil berhati-hati karena saat itu banyak sekali bunga pasirnya

Mengingat Bengkulu,

Saya jadi sadar, betapa saya rindu itu semua…

Kini Datuk dan Nenek sudah tiada… Rumah peninggalan pun tak lagi seindah dulu.

Mengingat Bengkulu hanya akan membuat saya menangis…

Karena saat-saat indah itu tak akan pernah kembali…

Namun saya beruntung karena pernah merasakannya…

walau nanti itu hanya akan jadi cerita yang sulit dibuat nyata bila nanti saya bercerita pada anak cucu saya …

Mengingat Bengkulu,membuat saya ingin pulang kesana. Semoga Allah mengabulkan permintaan saya, amiinn…

Pertanyaannya, jadi tahun ini saya mudik ke mana ? ya tetep ke Cianjur. Bengkulu kembali di anak tirikan

So, itu cerita tentang mudikku, bagaimana dengan mudikmu ?

25 pemikiran pada “Mudikku, Mudikmu

  1. saya biasa mudik ke ponorogo bunda. tapi sejak menikah 3 tahun yang lalu baru tahun kemarin saya mudik karena lebaran sebelumnya sedang hamil. dan tahun ini??? saya ndak mudik lagi, lha wong pak e n simbok e udah di jakarta dan katanya mau menetap di sini. jadi….akankan nantinya ponorogo akan seperti bengkulu seperti buat bunda ya? hiks….hiks…..

  2. lapor! sayah sudah mudik ke manado bun..😀
    si kecil sih masih dalam peyut.. jadi belum diitung 1 tiket mudik.. wahaha..

    selamat menyambut lebaran bersama keluarga di Cianjur ya bunda..
    cium pipi Kaka dan Airin yaa.. (bundanya sih ga usah..):mrgreen:

      • @ teh Yuyun
        waaaaaaa, dah mau ada babyyyyy *peluk2 perut teteh, teh yuyunnya mah ga usyah*😆
        selamat menyambut lebaran juga teh.. selamat menikmati lebaran di manado, asa jauh pisan😛

        @ achoey
        eeee plis yaaaa, yg ke Ciamis mah situuu, bukan saya😛

  3. selamat bermudik ria, semoga mudik tahun ini bisa menyenangkan,
    bisa berkumpul dengan keluarga dan sanak famili merayakan lebaran bersama,
    saling bermaaf-maafan di hari raya nan fitri…

  4. met lebaran bund…

    udah lama berlalu ini… tapi masih bulan syawal😀

    saya ga mudik… perutnya udah berat😛 males ke mana2 mah… mana macet2… mending di rumah aja dah…

  5. Ping balik: Saras, Sang Gadis Rumput (Bagian Dua) « Catatan Cinta Sang Sahaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s